Upaya Manajemen Limbah Untuk Budidaya Udang Berkelanjutan

Bengkulu, mediakorannusantara.com – Posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia, membuka peluang dalam membangun kerjasama regional dan internasional. Salah satu daerah ekspasnsi tambak udang yang sedang menggeliat adalah provinsi Bengkulu, baik bengkulu utara maupun Kaur.

Dalam rangka meningkatkan dan mendukung Bengkulu sebagai peluang komoditas ekspor dibidang kelautan dan perikanan diadakan diskusi. Kegiatan diskusi yang dilakukan pada hari senin, 7 maret 2022 di hotel Zalfa Kaur, dihadiri sedikitnya 50 peserta hadir juga sekdis perikanan Defrial wakil dari dinas Perikanan Kaur, wakil dari Shrimp Club Indonesia yang di wakili sekertaris SCI Kaur Sapto Mugiyanto, serta Ahmad Arif selaku Founder dan CEO dari PT Juara Biolife solutions

Dalam kesempatanya Defrial mengatakan Provinsi Bengkulu sendiri memiliki garis pantai sepanjang 525 km, memiliki sumberdaya laut yang luar biasa, khususnya dibidang kelautan dan perikanan, baik perikanan tangkap, budidaya maupun pengolahan perikanan. Sekitar 29 tambak udang di Kabupaten Kaur, dengan total luas tambak mencapai 82,3 hektar, menjadikan sektor budidaya di Bengkulu sebagai peluang komoditas ekspor ke Amerika, Jepang dan juga China

Team dari enzym juara diberi kesempatan untuk melakukan edukasi terkait pengolahan limbah budidaya dengan teknologi Enzymatis, Founder dan CEO dari PT Juara Biolife solutions Ahmad Arif mengatakan tentunya diperlukan sebuah sistem budidaya yang ramah lingkungan serta berkelanjutan  “Penggunaan sistem Enzymatis dalam kegiatan budidaya udang ini merupakan sebuah metode yang sangat aman dan ringan dilakukan, baik untuk tambak maupun lingkungan sekitar”, ucapnya

“Enzim juara menawarkan sebuah produk yang difungsikan untuk mengolah limbah petakan dalam tambak, dengan sistem kerja enzim yang cepat dalam mendegradasi partikel limbah dalam air, sehingga beban dalam kolam menjadi lebih ringan dan aman untuk udang,” tuturnya

Penggunaan enzim di tambak dalam mengolah limbah, tambah Arif ditandai dengan berkurangnya atau hilangnya bau pada buangan central. Oeh sebab itu, untuk bisa tercipta suatu sistem budidaya yang berkelanjutan dan demi mengembalikan Ketahanan ekosistem perairan tambak dan lingkungan, harus di dukung dengan adanya instalasi pengolahan limbah (IPAL) yang wajib dimiliki oleh setiap perusahaan atau pelaku budidaya

Sementara Sapto Mugiyanto sangat antusias dan berharap kegiatan seperti ini dapat berkesinambungan agar dapat menyamakan presepsi para pembudidaya sehingga tercipta budidaya yang aman, lancar dan berkelanjutan.(rif/wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 − 15 =

Update

Berita Terkait