Budidaya Udang Vannamei, Didorong Manfaatkan Enzim dan Bioteknologi Herbal

Bisnis.com, BATAM – Komoditas udang telah lama menjadi salah satu andalan ekspor bagi Indonesia dari sektor kelautan dan perikanan. Salah satu jenis yang digandrungi adalah Vannamei.

Sayangnya di tengah iklim yang ekstreme dan kerusakan lingkungan menciptakan tantangan berat bagi petambak udang.

Hal inilah yang membuat Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Korda KEPRI bersama Lembaga Sertifikasi Profesi Akuakultur Indonesia (LSP-AI) menyelenggarakan Pelatihan Intensif Manajemen Bisnis Budidaya Udang Vannamei yang efisien, profitable dan berkelanjutan di Batam, 5-6 Maret 2020.

“Kegiatan ini terdiri atas materi kelas dan ujian praktik langsung di lapangan, harapannya peserta mampu meningkatkan produksi udang vannamei di Kepulauan Riau khususnya dan program nasional pada umumnya,” ujar Ketua Panitia, Dr Romi Novriadi yang juga Wakil Ketua MAI.

Pelatihan ini sendiri diikuti sekitar 60 peserta terdiri dari pelaku usaha, akademisi dan stakeholder lainnya. Dalam paparannya, Guru Besar Pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan UNHAS, Prof Dr Yushinta Fujaya yang direkomenadasikan untuk dilakukan adalah pemanfaatan bioteknologi herbal.

“Bioteknologi penting dalam meningkatkan produktivitas.Beragam mikroba dapat digunakan untuk meningkatkan kesehatan dan pertumbuhan udang, “ ujarnya saat Pelatihan Manajemen Bisnis Budidaya Udang Vannamei di Batam pada 5-6 Maret 2020.

Dikatakan wanita yang juga merupakan Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi Akuakultur Indonesia ini, beragam herbal indonesia memiliki peran penting dalam menstimulasi pertumbuhan, sebagai imunostimulan, anti bakteri, anti fungal, anti virus pada budidaya udang. “Gunakan bioteknologi untuk budidaya udang yang ramah lingkungan,” jelasnya.

Dicontohkannya, beberapa tumbuhan yang bisa dimanfaatkan adalah meniran hijau, maja, urang aring, bayam, pala dan temu kunci.”Manfaatnya banyak, bisa untuk promoter pertumbuhan, munostimulan, prebiotik dan anti-bakteri,” katanya.

Selain itu dalam paparannya, Prof Yushinta juga menuliskan jika enzim memiliki peranan penting dalam pertumbuhan atau imunitas.

Terpisah, Ahmad Arif praktisi udang dan produsen enzim Juara mengatakan hal senada.

” Konsep kami juga kembali ke cara alam, meyelesaikan masalahnya sendiri dengan tidak terlalu banyak inputan,” katanya.

Menurutnya, karena padatan tebar tinggi otomatis limbah di petakan akan semakin besar. Dan ini menjadi cikal bakal masalah yang muncul .

“Limbah di petakan gampang dibersihkan kalau tidak ada makhluk hidup di dalamnya. Tapi karena ada udang di petakan jadi kita harus menjaga daya dukung kehidupan udang agar bisa sehat dan tumbuh,” jelasnya.

Dikatakannya, dengan penggunaan enzym (gugus protein, bukan makhluk hidup) maka kebutuhan mikroorganisme untuk proses apapun dipetakan bisa ditekan.

“Karena kalau bakteri tinggi, plankton, tinggi, limbah tinggi dan udang sendiri juga sudah mulai besar, mereka akan saling berkompetisi untuk hidup, mulai berebut oksigen, makanan, dan ruang,” tuturnya.

Salah satu solusi efektif adalah teknologi enzymatic. “Dasar pemikirannya adalah limbah harus terdekomposisi secara maksimal dan cepat tanpa menggangu daya dukung hidup udang,” katanya.

Biomolekul berupa protein yang berfungsi sebagai Bio katalisator (senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa mempengaruhi hasil reaksi) dalam suatu reaksi kimia organik. Enzym bersifat spesifik yaitu bekerja pada substrat tertentu.

Dalam enzim yang diberi nama ‘Juara’ ini, mengandungf salah satu enzim hidrolase yang berfungsi untuk mempercepat reaksi konversi dari galaktosida menjadi galaktosa, seperti laktosa menjadi monosakarida yaitu Galaktosa dan Glukosa.

Dengan enzim tersebut, perawatan, control, pencegahan dan perbaikan penyakit teratasi. Biasanya kondisi ini gejala diantaranya pencegahan gas, kembung dan tidak nyaman dan insuficiensi pancreas

“Bio konversi lignosellulosa menjadi gula dan etanol memecah hemiselulosa meningkatkan serapan pakan. Jadi enzim memang dibutuhkan oleh udang ini agar tumbuh dengan kualitas dan kuantitas sesuai harapan,” pungkasnya.

Acara ini juga menghadirkan, Dr. Supono, M.Si, Praktisi Tambak di Lampung dan Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Korda Lampung.

“Pelatihan ini sangat menarik. Selain mengajarkan hal dasar mengenai budidayanya, juga mengenalkan teknologi terbaru,”tuturnya.

Hal ini sesuai dengan tujuan pelatihan yaitu merefresh pengetahuan dasar budidaya sebagai bekal uji kompeetensi dan memberikan pengayaan pengetahuan petambak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

6 + 2 =

Update

Berita Terkait